Jumat, 20 Maret 2015

#MyLoveStoryQuiz

Along the Winter

Dear
Kaiya Yoshizumi,

Kak dela?(1) Kuharap kau baik-baik saja. Aku menulis surat ini bertemankan guncangan emosi bercampur rindu yang meletup di hatiku. Aku membecimu, sungguh. Tapi kau tahu, seketika aku akan mati ketika aku benar-benar membencimu. Jadi, apakah kau menangkap maksudku, Kai-chan?

Aku kira aku mengenalmu. Tapi ternyata.., bahkan aku tak tahu apapun tentangmu. Hanya karena kita sering jalan bersama, kupikir aku dekat denganmu. Tapi ternyata.., semakin kita bersama, jarak di antara kita semakin terasa.

            Ini benar-benar gila. Seharusnya itu surat cinta. Seharusnya aku bisa bahagia. Tapi bagaimana bisa aku membacanya tanpa buliran bening yang menjulur dari kedua sudut mataku? Aku benar-benar tak bisa menerimanya.

***
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Tentu.”
“Kau bisa saja membohongi semua orang, bahkan membohongi dirimu sendiri. Tapi takkan pernah kubiarkan kau membohongiku.”
Dingin. Seingatku, salju yang jatuh memborbadir negeriku tak pernah sebeku ini. Aku rindu Tokyo, juga bibi Kyoto.
“Friendship bracelets, ya?” tanyanya kemudian. Kedua bola matanya menatap penuh selidik ke arah kepalan tanganku.
“Ya.” Aku mengangguk, mengendurkan genggamanku. Kupandangi gelang yang kurajut sendiri. Pilu.
“Kenapa ada dua? Apakah belum kau berikan pada temanmu?” tanyanya lagi. Aku mendongak, menatap manik birunya yang masih diselimuti tanda tanya.
“Untukmu.”

***
Aku ingat perjumpaan pertama kita. Kau berjalan tergesa-gesa ke kelasmu, lalu kau menabrakku. Ah, tidak juga. Kuyakin kau tak sengaja. Kau membungkukkan badanmu. Raut wajahmu menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. Kurasa, kau takut aku memarahimu. Dari situ, kutahu kau tak berasal dari negeriku.

Semakin hari, aku semakin tertarik padamu. Aku mengintaimu. Lalu, aku mulai menunggumu di bawah pohon meranggas yang entah apa namanya. Gigil. Tapi aku tetap menunggumu. Kemudian, kau keluar dengan ekspresi yang sama seperti yang kau tunjukkan ketika kali pertama berjumpa denganku. “Hei, tersenyumlah! Jangan takut, aku bukan monster,” ujarku kala itu.

            Ini benar-benar tak membantu. Tak berguna. Aku duduk di sini untuk menghindarinya. Mengusir segala kenangan tentangnya. Tapi, apa yang kudapatkan sekarang?

***
            “Hei, cinta itu tentang berbagi rasa sakit. Kau tahu itu, kan?”
            “Tentu saja aku tahu.”
            Dia, lelaki yang duduk di sampingku, menatapku lembut. Tatapannya begitu hangat. Selalu begitu.
            “Apa kau masih memikirkannya?”
            “Tentu saja. Bagaimana bisa dia memaksaku untuk bersaing dengan orang yang sudah lama mati?” jawabku. Dia mengangkat bahunya. Aku menghela napas. Berat.
            “Kau ingat friendship bracelets yang kuberikan padamu dua tahun yang lalu?” tanyaku kemudian. Dia mengangguk.
            “Itu bukan untukmu,” tukasku.
            “Aku tahu. Karena aku tahu itu bukan untukku, aku tak pernah memakainya. Kai-chan, sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri?” Dia menghela napas, “Kalau kau menganggapku teman, cobalah untuk lebih jujur padaku. Bukannya aku memaksamu. Pun mengguruimu. Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu.” Matanya menerawang jauh ke mataku. Mencoba menggali apapun tentangku lebih dalam lagi. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya.
            “Kau tenang saja. Aku tak akan membohongimu lagi.” Senyumuku mengembang. Lelaki di sampingku menautkan kedua alis tebalnya, menatapku dalam diam.

***

            Old Arbat Street, Moskow.
Tak ada yang berubah. Masih beku seperti hari-hari sebelumnya. Ah, dingin sekali di sini. Ingin ku segera lari ke Tokyo, lalu menemui Bibi Kyoto.
“Hoi!! Kai-chan!”
Aku menoleh. Dia datang. Dengan setelan jas musim dingin, ia melambai ke arahku, tepat di depan hiruk-pikuk Sashlik Mashlik.(2)
“Hoi! Kemarilah!” teriaknya.
Aku mengangguk, lalu berlari menghampirinya.
“Duduklah.”
“Huh?”
“Kau akan kulukis,” ujarnya. Tak lama, ia mengeluarkan senjata-senjatanya, lalu beralih ke arahku, “Berposelah! Ini akan jadi lukisan yang indah.”
Lagi, aku mengangguk, duduk di bangku kayu yang ia letakkan di depan restoran dan berpose seperti yang ia minta. Ini mencengangkan. Kutahu dia kuliah di fakultas seni rupa. Tapi kau tahu, ini kali pertama dia melukisku.
“Bagaimana menurutmu? Jalanan ini mengagumkan, kan?” ujarnya sembari melemparkan pandangannya ke arah orang-orang yang tengah mengerumuni pesulap jalanan, lalu kembali fokus ke kanvasnya.
“Tentu. Bahkan, telingaku dimanjakan oleh sekelompok pemusik muda yang menyanyikan Hey Jude.(3) Mereka luar biasa. Padahal kukira, di Rusia tak ada yang mau menyanyikan lagu-lagu dari barat.”
“Kau benar. Kebanyakan orang tua di Rusia memang tak mau menyanyikan lagu-lagu seperti itu. Tapi ternyata, generasi berikutnya tak berpikiran sama,” ucapnya, masih sibuk dengan kanvasnya. Aku bergeming, membiarkan telingaku bersuka cita dengan alunan musik yang menerobos gendang miliknya.
“Berapa lama lagi?” tanyaku. Sudah tigapuluh menit aku mengambrukkan pantatku di bangku ini. Terasa pegal, tapi begitu menyenangkan.
“Selesai,” lontarnya sembari menengok hasil akhir dari karyanya, lalu memanahkan matanya ke arahku, “Kau cantik,” lanjutnya.
Beku. Aku membeku. Dia.., dia menarikku ke dalam dekapannya.
“Maaf!” Aku melepas pelukannya.
 “Kenapa?”
“Aku harus mendengar langsung darinya.”
“Kenapa? Kenapa kau lebih memilih meninggalkan orang yang mencintaimu untuk orang yang bahkan tak pernah menganggap keberadaanmu?”
Aku terdiam. “Aku.., aku tak punya alasan. Bukankah cinta memang tak memerlukan alasan?” tukasku, berusaha membela diri.
Ia menghela napas, “Terserah. Ini. Kukembalikan padamu. Tolong berikan friend bracelet ini kepada pemiliknya. Terimakasih telah meminjamkannya kepadaku.”

***
Malam itu kau bilang padaku bahwa kau tak akan membohongiku lagi. Tapi malam berikutnya, aku datang padamu dengan setangkai mawar, dan kau membiarkannya layu. Mati bersama perasaanku. Kau meninggalkanku.

Aku tahu kau menyukai Yoshida-san. Menyukai lelaki yang bahkan tak menampakkan perasaannya padamu. Kau menyukainya, tapi tak mencintainya. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya. Hei, jangan memasang tampang kaget seperti itu! Wajahmu terlihat jelek sekali kalau begitu. Tenang saja, aku takkan mengganggumu. Pun takkan menyusulmu. Takkan menghalangi langkahmu.

Kau ingat Transsiberian? Film pertama yang kita tonton bersama? Ah, kuyakin kau mengingatnya. Aku ingin kita tak hanya menontonnya dalam bisu. Aku berharap kita punya lebih banyak waktu untuk duduk di salah satu bangkunya, lantas menikmati perjalanan dua benua dengan bercengkerama. Bahkan saat kutulis surat ini, aku merasa sangat bahagia hanya dengan membayangkannya saja. Aku ingin mendengarmu berkisah tentang dirimu. Tak melulu tentang kau yang bertanya bagaimana hidupku. Saat hari itu telah tiba, benar-benar giliranku untuk menginterogasimu.

Jika kau masih menganggapku sebagai temanmu, ikutlah denganku. Perjalanan ke Beijing di musim dingin lima tahun mendatang. Gunakan instingmu, juga imajinasimu. Kau tahu, aku membencimu. Pun begitu merindukanmu.

Ya tebya lobyu, Kai-chan.(4)

Ivanov Vladimir.

            Terlambat. Itu tepat setahun yang lalu. Bodoh. Kenapa aku harus terlambat untuk hal sepenting itu? Kuremat selembar kertas usang yang telah habis kubaca.
Ingatanku melayang di tahun pertama kepulanganku ke Tokyo. Seorang tukang pos datang padaku dengan kedua pipi bersemu merah. Dia bilang padaku bahwa yang dibawanya adalah surat cinta. Amplopnya cantik, berhiaskan lukisan Matryoshka(5) kesukaanku. Tapi, saat itu aku hanya diam. Tak genap lima detik setelah aku membaca nama pengirimnya, surat itu langsung kumasukkan ke saku kanan jas musim dinginku. Jas yang sama seperti yang kukenakan saat ini. Enam tahun aku mengabaikannya. Dan detik ini, aku terisak dibuatnya.
“Cukup! Jangan membiarkanku bersaing dengan orang yang sudah mati! Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan dia, aku telah kalah. Telak. Ini tidak adil!” pekikku.
“Gadis yang sudah mati itu…, aku mencintainya. Kenapa mencintai gadis yang sudah mati dan masih hidup itu rasanya berbeda sekali? Seperti kau dan kakak sepupumu itu. Kau tahu kenapa hati dan fikiranku selalu terikat pada orang mati sepertinya?”
Aku menggeleng. Menunduk dalam bisu.
“Karena…, itulah yang dinamakan cinta. Tak pernah membutuhkan alasan untuk mengungkapkannya. Tapi aku.., mempunyai alasan dalam mencintaimu.”
“Apa?” tanyaku, menggigit bibir bagian bawahku. Ngilu.
“Aku mencintai Akira-chan yang ada di dalam dirimu. Aku mencintai Akira-chan…, melaluimu.”
Lagi, sekelebat kenangan tentang masa lalu, kembali menginjak-injak otakku. Perih. Yang kumiliki hanyalah Bibi Kyoto dan Akira-chan, kakak sepupuku. Dan dia.., meninggal sehari setelah bertunangan dengan Yoshida-san karena suatu penyakit yang tak akan kusebutkan.
Lalu, kuingat dia memintaku untuk menjaga Yoshidan-san. Tentu saja untuknya. Aku juga meneruskan keinginannya yang bercita-cita menjadi seorang dosen sastra Rusia. Aku tak tahu kenapa dia begitu terkesima pada Rusia, tapi aku berusaha keras untuk mewujudkannya. Ya, walaupun klimaksya aku malah kembali ke Tokyo dan menguapkan segala impian Akira-chan..

***
            Hari kedua puluh lima. Ini akan menjadi pengalaman yang teramat luar biasa jika aku duduk di sini bersamanya. Persis seperti harapannya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah tahun lalu Ivan juga duduk di sini seorang diri dan berharap aku menemuinya?
            Besok, kereta ini akan membawaku ke Beijing. Kota terakhir dari tur yang membuang lima ribu USD milikku. Setelah enam tahun, aku kembali ke St. Petersburg untuk menemuinya. Tapi, dia tak di sana. Aku meneleponnya, tapi nomornya tak lagi aktif. Lalu, aku memutuskan untuk membuangnya dari hidupku. Aku mengikuti tur dua benua untuk merontokkan segala ingatanku tentangnya. Tapi, aku malah bertemu dengan surat yang ia tulis untukku. Rencanaku berantakan. Kilasan balik masa lalu kami, kian berkobar di benakku seiring dengan Trans-Siberia yang melaju kencang.

***
            “Spasiba(6),” ucapnya ragu. Napasku tercekat. Apakah setahun ini dia menungguku di sana? Dia.., benarkah itu kau, Ivan?
            Aku menancapkan pandanganku padanya. Tak bisa berkata-kata. Dia tak pernah mengingkari janjinya, bahkan kepada pembohong sepertiku. Kulihat dia menenteng lukisan yang dulu ia buat untukku. Dia terlihat berbeda. Aku ingin menyapanya, lalu bertanya tentang keadaannya. Setelah semua perlakuanku padanya, aku tak bisa.
            “Hei, tersenyumlah! Jangan takut, aku bukan monster.” Setelah enam tahun, hanya kalimat itu yang mampu meloncat dari pita suaraku.

You gave me all your love, and all I gave you was goodbye

Footnote:
1.      Apa kabar (bahasa Rusia)
2.      Restoran masakan khas Turki di Old Arbart Street.
3.      Salah satu judul lagu dari The Beatles.
4.      Aku mencintaimu (bahasa Rusia)
5.      Boneka khas Rusia.
6.      Terimakasih (bahasa Rusia)

***

Tulungagung, 20 Maret 2015.
Cerpen ini terinspirasi dari lagu Back to December-Taylor Swift dan sedang diikutkan dalam #MyLoveStoryQuiz. 1500 kata sudah termasuk judul dan footnote.


Jumat, 20 Februari 2015

Flashfiction

Di Depan Loket Bianglala

Lesatan mataku terhenti pada belasan pasang muda-mudi yang mengantre di depan loket bianglala. Pilihan terbaik untuk menyibak pekatnya malam di taman ini, kurasa.

Ah, fikiranku melambung. Membayangkan jika aku duduk di salah satu bangkunya, menggenggam erat tangan kekasihku, lantas saling memeluk mengusir dingin yang mulai mengusik dari ketinggian 175 kaki. How romantic!

Itu dia! Seseorang dengan rambut harajukunya. Sekitar lima meter dari tempatku berpijak saat ini, kulihat Ibuku mengangguk menanggapi ocehannya. Kupastikan ibuku telah salah menilainya. Dia mendekatiku, lantas melontarkan kalimat yang kuyakini telah diucapkannya terlebih dahulu pada ibuku. Ya, walaupun dengan sedikit bumbu modifikasi tentunya.

Aku berbisik tepat di cuping telinganya, pelan, dan kelam, “Berkencan denganmu? Hah! Apa kau gila? Asal kau tahu, aku bukanlah wanita lesbian sepertimu!”

#latepost Cerpen Akhir Tahun

Kencan Pertama

“Kenapa kau mengejeknya seperti itu?” tanyaku.

“Aku tidak mengejeknya. Kau tahu, aku hanya sedang berpendapat,” jawabnya santai, ya,
seperti biasanya.

Aku bergeming, tak berniat melanjutkan segudang pertanyaan yang siap kuluncurkan. Ah, jika saja bukan itu jawabannya, kupastikan dia telah gelagapan meladeni pertanyaanku. Dia memang pandai jika urusan berdebat dan aku telah benar-benar kalah saat ia berkata, “Aku sedang berpendapat.”

Kau tahu, kaliamat itu adalah senjata pamungkasnya. Sekeras apapun usahamu untuk  bertanya, saat dia telah mengatakan tiga kata tersebut, kau hanya akan diajaknya kembali kejawaban semula. Hem.., hanya berputar-putar saja, tapi intinya tetap sama. Jadi, kusarankan pada kalian untuk diam saat dia telah berkata demikian.

“Sejak kapan kau tertarik pada dunia fashion?” tanyaku setelah mendapati majalah fashion di laci dashboard mobil miliknya.

“Sejak Conchita Wurst menjuari Eurovision 2014.” Matanya masih menatap lurus ke depan, fokus terhadap jalanan yang kami lewati.       

Kusibak lembar demi lembar CR Fashion Book yang kutemukan di laci dashboard mobil milik Archer. Ah, ini pasti milik gadis Manchaster yang begitu ia puja. Aktifitasku terhenti pada suatu halaman yang secara khusus menceritakan profil pemenang Eurovision Singing Contest 2014, kontes menyanyi terakbar seantero Eropa.  Dia berpenampilan anggun, mata cokelatnya begitu menyala, memikat siapapun yang menatapnya. Tapi…,

“Jadi ini alasan dibalik kalimat ejekan yang kau lontarkan terhadap penampilan Nona Wurst?” tanyaku setelah mendapati cambang yang masih bertengger manis di pipinya.

“Sudah kukatakan, aku tidak mengejeknya. Aku hanya sedang berpendapat. Berapa kali aku harus mengatakan hal ini padamu, huh?” jawabnya sekali lagi.

Hening. Hanya terdengar suara-suara kendaraan yang saling berpacu di jalanan licin yang baru saja dicumbu salju.

“Kalau saja ia mau mencukur cambangnya, kupastikan banyak lelaki yang akan jatuh hati padanya,” ujarnya membuka percakapan, setelah sekian menit kami saling menyelami dunia masing-masing dalam diam.

“Hahahahaa! Kau lucu sekali, Archer. Jangan bilang kau akan jatuh cinta padanya sesaat setelah ia mencukur cambangnya,” gurauku.

“Dia bukan tipeku,” tukasnya.

Malam ini, secara khusus, aku menemani Archer untuk menuntaskan misi agungnya. Ia akan mengajak calon kekasihnya untuk berkencan dengan berlayar menyeberangi Sungai Thames sembari menikmati the dinner cruise. Tak ada keberanian untuk menolak permintaan gilanya kali ini. Toh, selama ini, dia sudah banyak membantuku. Bahkan, saat aku ditendang  dari rumah orangtuaku, Archer pun dengan senang hati mengajakku untuk tinggal di flatnya sampai saat ini. Jadi, saat aku diminta untuk menyukseskan kencan pertamanya kali ini, why not?

“Menurutmu, apa yang membuatnya enggan mencukur cambang?” tanyanya lagi.

“Kurasa itu merupakan hal unik dalam dunia fashion.  Jadi dia mempertahankannya. Kau tahu, bahkan, Kate Moss pun pernah berfoto dengan wajah yang dihiasi oleh kumis dan berewok. Ah, ya, kau tahu America’s Next Top Model? Dalam salah satu episodenya, aku pernah melihat  dua peserta yang wajah cantiknya dihiasi berewok palsu. Jadi, jika yang terlahir sebagai wanita saja mau didandani sedemikian rupa, mengapa ia yang terlahir sebagai pria malah berniat untuk mencukur cambangnya? Kau tahu, selain suara emasnya, muka berewok Conchita Wurst adalah salah satu keunikan tersendiri yang sukses mencuri perhatian dunia. Tak ada salahnya untuk menjadi berbeda, kan?”

“Ya, ya, ya. Tapi, bagaimana jika ia mempertahankan cambangnya untuk memuaskan hasratnya  sebagai dua individu sekaligus? Sebagai seorang pria dan.., sebagai seorang wanita?” tanyanya lagi. Hah! Pertanyaan macam apa itu?

“Bisakah kita membicarakan hal lain? Tak asyik mendengar dua pria dewasa saling bersilat lidah untuk membahas seorang transgender. Lebih baik kita beralih ke topik lain saja. Membicarakan calon kekasihmu, mungkin?” Kudengar ia terbahak mendengar usulanku.

“Kau bisa menilai dirimu sendiri, kan? Jadi, untuk apa kita membicarakan calon kekasihku?” jawabnya ringan. Aku mengernyit.

Dia mendesah, “Kau masih tak menyadarinya, huh? Gadis mana yang mau berkencan dengan lelaki yang mengajak serta sahabat karibnya? Adakah gadis yang mau berkencan jika secara terang-terangan sang lelaki membawa serta orang ketiga?” Ia menatapku sekilas, “Darren, dengar,  aku mencintaimu. Kencan pertamaku, akan kuhabiskan denganmu.”

Tulungagung, 26 Desember 2015
Nb. Cerita ini juga saya post di blog pribadi saya di @sosardines


Sabtu, 10 Januari 2015

Flashfiction

Esok Kita Akan Menikah

Esok kita akan berdiri di sana. Kau akan berbalut gaun putih bertabur intan yang telah kau desain sendiri. Sedangkan aku, akan mengenakan kemeja putih dan jas hitam sederhana. Lalu, kau akan memamerkan senyuman terindahmu sembari menyalami kawan-kawanmu dengan cincin berlian yang melingkar di jari manismu.
“Aku harus mengambilnya,” pintamu malam itu.
Aku menatapmu nanar, “Tidak usah. Aku akan membelikannya lagi untukmu. Aku janji.”
Kau hanya diam. Membuang pandangamu ke deburan ombak yang menghadang. Bibirmu kau majukan. Cemberut.
Kau bilang berlian itu lambang kesempurnaan. Kau juga bilang jika aku meminangmu dengan sebuah cincin berlian, cinta kita akan sempurna abadi selamanya. Tapi aku tak pernah benar-benar menyetujui pendapatmu yang satu itu. Sampai saat ini pun.., masih begitu.
“Kau salah besar, Annete. Berlian bukanlah lambang kesempurnaan,” ratapku padamu.
Kini, matamu mengatup sempurna. Tubuhmu yang biasa kurengkuh, terbaring tak berdaya tepat di hadapanku. Berbagai peralatan medis pun turut menempel di beberapa bagian tubuhmu. Hawa dingin mulai menusuk tulang-tulangku, lalu.., menyebar ke aliran darahku. Ngilu.
“Bangunlah, Annete. Esok kita akan menikah,” ucapku lirih sembari melingkarkan cincin dari senar gitar di jari manismu, “Kau tahu, inilah lambang cinta yang sesungguhnya.” Aku mengecup keningmu, seiring dengan seutas garis horizontal yang menghiasi layar monitor detak jantungmu.



     
Tulungagung, 3 Januari 2015

Minggu, 04 Januari 2015

#KabarDariJauh



Dua Bocah Kesayangan Mama


“Menyingkirlah dariku!”
“Kau ini kenapa?” tanyanya datar, lalu duduk di sampingku, seperti biasanya.
            Aku bosan mengulang-ulang adegan ini setiap hari. Sore yang mulanya akan kuhabiskan dengan duduk tenang sembari menyeruput secangkir teh melati, terpaksa kulalui dengan berdiri di atas kursi yang tadi kududuki. Selalu seperti itu. Lalu, ketika wanita paruh baya yang duduk di sampingku mulai beranjak dari kursinya, barulah aku bisa turun, kembali duduk, dan menghabiskan teh melatiku yang tak lagi hangat.
            Aku pun benci ketika harus berteriak-teriak mengusir wanita paruh baya yang selalu menghancurkan suasana soreku. Sering aku berfikir, bolehkah seorang anak berteriak.., bahkan mengusir ibu kandungnya? Ah, tidak. Aku sama sekali tak peduli tentang hal itu. Toh, diapun tak pernah marah saat aku berteriak dan mengusirnya. Dia sama sepertiku. Sama sekali tak peduli.
            “Ke mana Ayahmu?” tanyanya gelisah, wajahnya pucat dengan napas yang memburu, “Nadine.., Mama sudah…, tidak.., kuat lagi,” tukasnya.
            Aku berlari ke koridor, membiarkan para tenaga medis menangani Mama yang kehamilannya bermasalah. Jemariku gemetar memegang ponsel. Kutelepon nomor ponsel Ayahku, namun nihil. Tak ada jawaban di seberang sana. Kecemasanku semakin memuncak. Ayahlah satu-satunya orang yang mampu menguatkan hati Mama saat ini. Tapi.., di mana dia?
            “Maaf, permisi,” ucap seseorang dari arah belakang tubuhku.
            Aku berbalik, “Si.., sia.., siapa, Sus?” tanyaku dengan suara bergetar. Tuhan, jangan biarkan Mama ada di hadapanku saat ini, kumohon.
            Perawat berkacamata itu lantas membuka pelan kain putih yang menyelimuti tubuh seseorang di hadapanku. Nyawaku serasa ikut dicabut ketika mengetahui dia yang berbaring tak bernyawa di sana bukan Mamaku. Air mata yang tadi hanya menggenang, kini terjun jua.
            “Korban kecelakaan,” ucap si perawat sambil mengembalikan keadaan kain putih itu ke posisi semula, “Kami harus segera menghubungi keluarganya.”
            “Ayah.., kenapa harus Ayah? Jika Ayah diam saja di sini, siapa yang akan menemani Mama melewati masa-masa sulit? Kenapa, Yah?” Aku kembali membuka kain putih yang menutupi wajah pucat Ayahku. Tangisku pecah, sosok di hadapanku itu.., dia benar-benar…, Ayahku.
            Lagi. Kenangan pahit setahun silam itu masih membayang-bayangiku. Bahkan, aku tak menyadari bahwa yang kulakukan sejak tadi hanyalah berdiri di atas kursi sembari memejamkan mata. Membiarkan kenangan-kenangan itu merasuki otak, lalu menyengat ulu hatiku. Ngilu.
            Kubuka kedua mataku yang tadi sempat terkatup rapat. Kupandangi sekelilingku. Aman. Entah sejak kapan, wanita itu telah menyingkir dariku. Aku tak peduli. Kini, hanya ada aku di sini. Tentu saja, ditemani sang senja, secangkir teh melati, dan.., kenangan yang masih meraung-raung di benakku.
            “Dia Ayahmu?” tanyanya kali ini, sorotan matanya penuh rasa iba.
            Hah! Mengapa ia masih menanyakan hal itu? Kenapa ia tak menyadarinya juga? Aku di sini, di samping raga Ayahku yang telah kehilangan ruh, meronta-ronta, “Ayah.., jangan pergi! Aku meminta Ayah datang kemari untuk mendampingi Mama di masa-masa sulitnya. Tapi, kenapa Ayah malah datang kemari dengan menambah beban di pundakku? Kumohon, bangunlah, Yah.”
            Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku butuh pelukan. Mungkin.., mungkin Mama bisa menenangkanku. Harusnya memang begitu. Aku meninggalkan ranjang Ayahku, lalu berjalan tergesa ke kamar Mama.
            “Hahahhaahaaa! Kau bilang mereka mati? Yang benar saja, mereka ada dua! Anakku kembar! Kalian dengar itu? Hahahaahhhaa!” Tawa Mama bergema di ruangan ini.
            Wanita paruh baya yang terduduk di ranjang itu, sesekali meronta-ronta. Lalu, tak lama kemudian, ia terbahak keras sekali. Nyaris tanpa henti.
            “Ma..,” panggilku dengan suara parau.
            “Nadine, mendekatlah! Kemarilah!” pintanya.
            “Ma, Papa…” Rangkaian kata yang telah kusiapkan, tertahan begitu saja di ujung lidah. Kelu.
            “Sebentar lagi kau akan punya adik. Langsung dua! Hahahahahaaaa!” bisiknya tepat di telingaku, lantas terbahak lagi.
            Aku menatap Mama nanar, butiran bening itu kembali terurai tanpa bisa kucegah.
            “Toksoplasma.(1) Ibumu keguguran,” ucap Dokter itu kepadaku. Lirih, nyaris tak terdengar.
            Semua kenyataan ini menamparku. Menghempaskan tubuhku yang mendadak rapuh ke ngarai kepedihan. Kulihat Mama masih saja meronta. Lalu, di samping kiri dan kanan ranjangnya, kulihat dua orang perawat berusaha menenangkannya.
            Samar-samar, kudengar suara yang sontak membuyarkan lamunanku.
            “Mereka tidak mati. Kurasa, kedua bocah ini memang tak mau memiliki adik maupun Ayah.” Wanita paruh baya itu sudah duduk di sampingku lagi. Entah sejak kapan. Ia berbicara dan tertawa ringan pada dua bocah di pangkuannya, lalu mengecup mereka tepat di kening keduanya.
            Aku tak keberatan jika semua orang di dunia ini mengaggapku sudah tak waras. Karena aku memang gila saat sedang berhadapan dengan Mama. Aku tak pernah benar-benar berteriak pada Mama. Kau tahu, setiap aku bertindak kasar kepadanya, saat itulah aku hancur. Sejak setahun yang lalu, aku telah hancur setiap hari. Setiap saat semakin hancur. Aku tak pernah membeci Mama. Sampai kapanpun, aku juga tak akan pernah bisa membenci Mama. Aku tak pernah menghindari Mama, tak pernah pula benar-benar mengusirnya. Aku hanya…, kau tahu, aku benci kepada dua bocah yang teramat disayanginya. Bahkan, yang selama ini kuhindari hanyalah dua kucing anggora yang telah mengubah kehidupanku dan juga Mama. Dua ekor kucing yang selalu digendong Mama ke manapun ia pergi. Dua ekor kucing yang dianggap Mama sebagai anak kandungnya.
            “Menurut Mama, kalian tak mau Mama membagi perhatian Mama ke orang lain, kan? Benar begitu, Manis?” tanyanya pada dua bocah kesayangannya, sekaligus dua bocah yang teramat kubenci.

Footnote:
(1)   Toksoplasma adalah penyakit yang diakibatkan oleh parasit Toksoplasma gondii, yang dapat ditularkan oleh kucing. Berdasarkan penelitian-penelitian, jika ibu hamil terkena Taksoplasma kemungkinan terbesar yakni 40% ketika melahirkan janinnya akan terinfeksi, dan kemungkinan kedua dengan presentase 17% akan mengalami abortus atau kelahiran dini. Untuk bayi yang dilahirkan kemungkinan besar sekitar 90% akan lahir dengan normal tapi akan ada kemungkinan menderita gangguan penglihatan atau lebih buruk buta, setelah beberapa bulan atau tahun setelah dilahirkan. Kemungkinan lainnya dengan presentase 10% bayi akan menderita gangguan pendengaran.


Cerpen ini diikutkan di tantangan @kampusfiksi. 909 kata sudah termasuk footnote.
Tulungagung, 4 Januari 2015.